Kamu Santri? 11 Pengalaman Berikut Ini Pasti Pernah Kamu Jalani Saat Berada di Pondok Pesantren

Kita bukanlah manusia sempurna yang tak bisa luput dari dosa. Hanya sekumpulan insan yang mencoba untuk menjadi yang lebih baik untuk keluarga serta agama. Berjuang hingga titik darah penghabisan menimba ilmu tanpa kenal putus asa. Semuanya demi menggapai masa depan cerah berwarna, berperantara usaha cipta penuh karya nyata.

Suatu hal yang mustahil jika kita pernah mondok tetapi sama sekali tidak pernah mengingat kenangan apapun saat kita hidup di dalamnya. Berinteraksi dengan santri-santri yang lain selama beberapa bulan atau bahkan tahunan membuat kita tidak mudah untuk melupakan berbagai rasa suka maupun dukanya. Yah, paling tidak beberapa hal mendasar berikut ini pasti pernah kita alami dan rasakan.

Bangga menjadi santri, bangga menjadi pemuda harapan negeri. Hidup santri!

 

1. Makan tak pernah sendiri, sebab selalu ada sahabat yang siap menemani

Gak ada loe, gak rame

Tumben makan banyak, lagi perbaikan gizi ya?

Solidaritas dan kesetiakawanan kita tinggi, bro! Kita gak pernah makan sendiri walaupun hidangan di depan mata hanya sebutir bala-bala. Kita setia kawan, man! Moto kita: makan tidak makan yang penting ngumpul, sambil membayangkan suatu saat akan bisa rame-rame makan ramen.

2. Aturan tak terlalu dipikirkan. Jika melanggar kita siap dihukum dan siap di-bully oleh teman-teman.

Ditakzir udah biasa bagi kita. Mungkin ada sebagian dari kita yang merasa bahwa kalau belum pernah dihukum, berarti nyantrinya belum “benar”. Santri itu tidak melulu selalu lurus, kita juga terkadang ada yang memilih menjalani hari-hari yang tidak mulus di pondok. Namun ada baiknya jangan ditiru ya, maklum kita dulu anaknya agak sembrono. Hehehehe

 

3. Kita adalah pasukan terlatih, siap antri mandi walaupun tahu menunggu itu letih

Yang antri bukan orangnya, tetapi gayungnya:D

Bro, antri gak?

Gak nih, tapi airnya habis

Oh… #tidurlagi

Kadang bukan antrinya yang lama, tapi nunggu airnya penuh yang memakan waktu. Bisa juga sebaliknya, airnya cepat penuh tapi antriannya panjang minta ampun. Kita biasanya membiarkan gayung berisi peralatan yang antri panjang di depan pintu kamar mandi.
Letih memang harus seperti itu setiap hari, tapi paling tidak penantian kita tidak sia-sia. Badan kita harum kembali dan siap ngaji lagi. Eaaa…

 

4. Saat akhir bulan datang dan dompet sudah mulai kerontang, selalu ada sahabat yang siap dijadikan tempat untuk ngutang

Sedih, ya?

Duh, udah akhir bulan ya? Horor bro…

Walaupun di pondok makanan kita sudah dijamin, kadang kita juga sering minta izin keluar atau bila ada waktu makan bareng teman di warung makan atau semacamnya. Nah, pada saat itulah kemampuan manajemen keuangan kita sering diuji. Mengukur nafsu makan yang sudah menggebu-gebu dengan kuantitas lembaran kertas di dalam dompet harus dilakukan dengan penuh seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. #lho?

Tak ayal, jika sudah keadaan mepet seperti itu jurus memelas langsung dikeluarkan. Berburu mangsa berupa teman yang masih banyak persedian bekal di dompet maupun camilan ringan. Semua demi keberlangsungan hidup di pondok. Hahahaa…

 

5. Tidak ada kepemilikan mutlak terhadap barang pribadi di pondok. Satu untuk semua, semua untuk semua

 

Khusus santri, semua untuk semua!

Woy, yang warna ijo ini sandal siapa? Pinjem yak? Iya… #dijawabsendiri

Kan sudah dibilang kita ini rasa solidaritasnya tinggi. Makan bareng, mandi bareng bahkan barang pribadi hampir saja digunakan bareng. Khusus santri cowok, semua peralatan mandi sepertinya memang menggunakan motto: Satu untuk semua. Satu odol untuk semua santri pondok. Luar biasa, yah?

Tapi, justru itu seninya. Hanya kita para santri yang mampu bermurah hati menyerahkan barang pribadi yang udah susah payah dibeli pakai uang sendiri tapi malah dipakai oleh orang lain. Hebat, kan?

 

6. Kita gak pernah galau karena cinta, kita hanya galau jika muraja’ah kacau dan terbata-bata

Lagi muraja’ah

Minggu depan setoran ya, langsung satu juz. Persiapkan baik-baik.

Bukan santri tulen kalau bisanya cuma galau karena hal sepele seperti itu. Kita tak pernah mengejar cinta ala manusia, kita hanya mengharap cinta dari Sang Pencipta dengan perantara hafalan kalam suci-Nya. Galau kita bukan karena tidak mendapat balasan chatting dari si doi, bukan itu. Hati kita bisa jadi gelisah galau merana hanya karena muraja’ah tiba-tiba amburadul atau bahkan menguap entah kemana.

 

7. Persahabatan antar santri adalah yang paling loyal, tak akan pernah lekang hingga datang waktu ajal

Santri selamanya

Persahabatan kita bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu…

Kata-kata di atas mungkin sudah cukup mewakili jenis pertemanan seperti apa yang terjalin di antara kita, para santri. Berasal dari daerah yang berbeda, latar belakang yang berbeda, kemampuan belajar yang berbeda dan kita solid dalam mengejar ilmu agama. Kebersamaan dalam pondok telah membuat hubungan kita melebihi saudara sekandung, kita bahkan merindukan untuk saling berkumpul suatu saat nanti.

 

8. Tidak hanya biasa ngaji berjam-jam, kita juga siap dengan alat tempur jika tiba saatnya waktu roan

Kerja bakti dulu

Jumat berkah. Saatnya kerja bakti untuk menjaga kebersihan pondok tercinta.

Tentu tidak selamanya kita berkutat dengan aktivitas keagamaan, dalam sekali seminggu kita juga rutin membersihkan lingkungan pondok agar terlihat selalu indah dan asri. Saat kerja bakti inilah kita bisa sejenak bisa bersantai, menggunakan pakaian bebas asalkan pantas, dan bercanda ria sambil bersih-bersih.

 

9. Sudah terbiasa tidur beralaskan tanah, beratapkan langit, berdempetan lengan, dan jungkir balik

Yang penting bisa tidur

Tidur itu waktu yang paling ditunggu-tunggu setelah seharian penuh beraktivitas dengan penuh sungguh.

Bukan tidak ingin tidur berbantalkan empuk dan kasur yang nyaman, kita hanya lebih memilih untuk bisa tidur dengan tenang walaupun posisi sudah acak-acakan. Kadang kita tidak punya tempat untuk tidur yang tetap, asalkan bisa memejamkan mata saja sudah cukup.

 

10. Ketika kiriman dari keluarga santri lain datang, tiba-tiba kita bisa menjadi “predator”

Bukan berebut, cuma menikmati rezeki dengan cara yang berbeda

Menikmati rezeki yang datang dari orang lain dengan cara yang “buas”

Bukan kita tak tahu akhlak, tapi memang sudah seperti itu adatnya. Satu untuk semua, semua untuk semua. Tak ada kepemilikan mutlak. Saat ada rezeki pantang ditolak. Kiriman makanan yang datang dari teman-teman yang lain, juga merupakan rezeki kita. Tak ada kata pelit kalau sudah berada di lingkungan pondok. That’s the rules!

 

11. Hati kita selalu rindu untuk kembali. Mengais berkah, mencari hikmah di penjara Ilahi

Kadang pengen balik mondok lagi

Bro, reunian yuk. Lama gak ngumpul-ngumpul nih. Buka puasa bareng angkatan kita gimana?

Bisa berkumpul dengan teman-teman sebaya, melakukan banyak hal di pondok bersama-sama itu memang suatu kenangan yang takkan pernah terlupa. Setidaknya memori indah tersebut pernah muncul pertama kali sesaat wisuda akan terlaksana dan kembali terulang di lain waktu di saat raga mulai menua.

Leave a Reply